Aktivis 98 dan Mahasiswa Gelar Bedah Buku Hitam Prabowo dan Suksesi Pilpres 2024

Laporan Wartawan Tribunnews, Hasanudin Aco

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI- Sejumlah Aktivis 98, Aktivis Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa Kampus dan Pemuda Kota Bekasi mengadakan kegiatan Bedah Buku Hitam Prabowo Subianto; Sejarah Kelam Reformasi 1998 dan Ancaman Demokrasi Indonesia menjelang Pemilu 2024 mendatang, Kopi Raga STIES Mitra Karya, Kota Bekasi Jawa Barat, Selasa (9/01/2024) sore.

Hadir pada kegiatan tersebut sejumlah narasumber mulai dari Akvis 98 dan Pegiat HAM Irwan Suhanto, Penggerak Sosial Kerakyatan Hari Purwanto , Pegiat Pemilu dan Demokrasi Hasnu Ibrahim, Akademisi Hasanuddin, Aktivis Milenial  Rahbar Ayatullah.

Irwan Suhanto Pegiat HAM dan Sosial Politik mengatakan. Negara ini akan menghargai kemanusiaan, dan menghargai demokrasi selama kemudian telah mengadili dan pelaku pelanggar HAM.

Baca juga: 2 Sosok yang akan Temani Gibran di Bawaslu: Eks Aktivis 98 dan Komisioner Bawaslu Periode 2017-2022

“Selama pelanggar HAM seperti Prabowo dan kawan-kawan ini belum diadili secara hukum saya pikir Prabowo belum layak untuk mencalonkan diri sebagai Presiden di bangsa ini,” jelas Irwan.

Irwan berkomitmen, selama pelanggar HAM Berat belum diadili maka selama itu juga saya akan terus menjadi juru bicara rakyat dan mendesak pertanggungjawaban negara untuk mengembalikan 13 kawan kami yang diculik,” kata Irwan.

Bahkan, lanjut Irwan, beberapa aktivis 98 dilingkaran Prabowo pada hari ini seperti Budiman dan kawan-kawan begitu tega menjual prinsip-prinsip moral dan nilai-nilai kemanusian ditengah penculikan terhadap aktivis 98 yang belum dikembalikan hingga hari ini.

“Saya menantang Prabowo untuk menumui massa aksi kamisan ke 801 di depan istana negara besok. Agar clear sejauh mana keterlibatan Prabowo pada penculikan aktivis 98 dan kerusuhan Mei 1998,” jelas Irwan.

Hasnu Ibrahim selaku Pegiat Pemilu dan Demokrasi menyampaikan penulis buku ini adalah aktivis 98. 

Menurut Hasnu, Buya Azwar telah berhasil mengingatkannya sebagai Pegiat Pemilu dan Demokrasi yang lahir pasca Reformasi di mana pada saat Orde Baru Rezim Soeharto terjadi Kasus Penculikan Aktivis,  kerusahanan Mei 1998, Tragedi Berdarah, Upaya Kudeta terhadap Presiden Bj. Habibi, Tragedi Berdarah di Timor – Timur dan Papua, terungkap secara jelas dalam Buku Hitam Prabowo Subianto ini di mana diduga kuat aktor sentralnnya adalah Prabowo Subianto.

Hasnu mengatakan, publik tentu bertanya-tanya; mengapa Prabowo hingga kini belum diadili? Tentu ini harus clear dijawab oleh Pemerintahan Presiden Jokowi. 

Hasnu melanjutkan, kehadiran buku ini juga memberikan informasi penting kepada generasi muda, aktivis mahasiswa dan rakyat Indonesia secara luas bahwa Pemilu 2024 adalah momentum yang baik untuk mengadili pelaku pelanggar HAM Berat agar tidak terpilih dalam Pemilu 2024 mendatang. 

Baca juga: Gerakan Aktivis 98 Soroti Penganiayaan Relawan Pilpres 2024

Hasnu menuturkan, saatnya persatuan rakyat dibutuhkan dalam suksesi kepemimpinan politik nasional untuk menjegal agar pelanggar HAM tidak berkuasa.

Akademisi Politik dan Hukum Hasanuddin menyampaikan, situasi penghormatan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi dalam 9 tahun terakhir mengalami penurunan amat sangat drastis dan mengalami situasi cacat demokrasi karena dikuasi oleh Dinasti Politik dan Oligarki. 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *