Cek Lagi! Inflasi RI Rendah Kabar Baik atau Justru Buruk?

Jakarta, CNBC Indonesia – Inflasi Indonesia Desember 2023 tercatat melandai dibandingkan periode November 2023. Hal ini disambut positif mengingat angka inflasi yang sesuai target Bank Indonesia (BI) dalam rentang 2-4%.

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin (2/1/2024) telah merilis data inflasi Desember 2023 yang mencapai 0,41 (month to month/mtm) dan 2,61% (year on year/yoy).

Data tersebut lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 11 institusi memperkirakan inflasi Desember 2023 akan melonjak angka 0,5% mtm. Naik drastis dibandingkan pada November yang tercatat 0,38%.

Sementara, polling tersebut juga memperkirakan inflasi secara tahunan juga melandai ke angka 2,72%. Inflasi ini lebih rendah dibandingkan pada November yang tercatat 2,86%.

Sementara itu, inflasi inti diperkirakan sedikit melandai menjadi 1,86% pada Desember (yoy) dibandingkan 1,87% pada November.

Plt Kepala BPS Amalia A. Widyasanti mengungkapkan inflasi bulanan pada Desember adalah yang tertinggi sepanjang 2023. Adapun, inflasi Desember yang meningkat dipicu oleh kenaikan harga di kelompok sub-makanan.

“Dapat dilihat pada grafik atas pada Desember inflasi kelompok makanan minuman dan tembakau 1,49%. ini merupakan inflasi bulanan terbesar kedua di tahun 2023,” papar Amalia dalam rilis BPS, Selasa (2/1/2023).

Jika dilihat secara rinci, komoditas inflasi makanan pada Desember ini antara lain cabai merah, bawang merah, tomat, beras, telur ayam ras, dan cabai rawit.

Data inflasi terakhir ini ditegaskan oleh Amalia bahwa merupakan inflasi terendah sepanjang 20 tahun terakhir dengan mengesampingkan pandemi Covid-19 yang terjadi pada periode 2021-2022.

“Di luar periode terdampak pandemi yakni 2021, inflasi tahun 2023 merupakan inflasi terendah dalam 20 tahun terakhir,” ungkap Amalia.

Inflasi Indonesia terus melandai diikuti oleh inflasi inti yang juga lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Inflasi inti Indonesia selalu di bawah inflasi headline sejak Juni 2021. Bahkan pada Desember 2023, inflasi inti Indonesia tercatat sebesar 1,8% yoy atau terendah sejak Desember 2021. Dengan kata lain, posisi inflasi inti saat ini merupakan yang terendah sejak dua tahun terakhir.

Bank Central Asia (BCA) dalam laporan bulanannya yang berjudul CPI: A happy (first half) new year mengatakan bahwa landainya inflasi inti terjadi karena kategori perumahan (sewa dan utilitas) memberikan kontribusi yang besar dari perlambatan.

Sementara transportasi memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi inti dalam hitungan bulan ke bulan, dengan harga tiket naik selama musim liburan. Namun kenaikannya relatif kecil dibandingkan tahun lalu ketika terdapat permintaan perjalanan yang terpendam dan juga moderat oleh harga minyak yang lebih rendah.

“Inflasi 2023 rendah ini kenapa? Karena komponen inti memiliki kecenderungan turun di 2023, di sisi lain administered prices juga tren menurun sejak terakhir naik drastis di September 2022. Sementara itu untuk komponen harga bergejolak masih relatif fluktuatif disebabkan berbagai faktor eksternal terutama dampak cuaca,” ungkapnya.

Seperti diketahui komponen inflasi inti menjadi tolok ukur dari daya beli masyarakat. Hal ini karena inflasi inti dipengaruhi oleh faktor interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal, seperti: nilai tukar, harga komoditi internasional, dan perkembangan ekonomi global dan ekspektasi inflasi di masa depan.

Direktur Statistik Harga BPS Windhiarso Ponco Adi Putranto menegaskan bahwa penurunan inflasi inti tidak menggambarkan adanya penurunan daya beli. Terbukti, belanja masyarakat terkait dengan barang jasa yang bersifat leisure meningkat. Hal ini sekaligus memperkuat pandangan bahwa masyarakat telah kembali ke masa pra-pandemi.

“Masyarakat sudah mulai membeli barang dan jasa khususnya di leisure ya, seperti rekreasi juga naik semua. Jadi secara umum daya belinya enggak turun,” tegasnya.

Sedikit berbeda dengan Ekonom Universitas Indonesia (UI), Ninasapti Triaswati menilai inflasi akhir tahun 2023 cukup baik yang ditopang oleh pengendalian harga yang cukup baik mulai dari harga hingga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun demikian, Nina melihat tren penurunan daya beli masyarakat menengah yang menunjukkan kerentanan meski untuk masyarakat kelas bawah masih terbantu adanya Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Terlihat dari Survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI bulan November 2023 yang turun jadi 123,6 dibandingkan sebulan sebelumnya yang tercatat di 124,3. Selain itu, orang RI juga kini mulai menggerus tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Fenomena ini melanda masyarakat dari berbagai kelas ekonomi, bawah sampai orang kaya, pedagang, maupun petani.

Tak hanya sekadar makan tabungan, kondisi masyarakat kelas bawah bahkan lebih miris. Selain tabungan hanya ‘numpang lewat’, juga mengandalkan pinjaman untuk menyambung hidup maupun menambal modal kerja atau usaha kecil-kecilan.

Situasi ini semakin dipertegas dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang semakin rendah.

Pertumbuhan DPK tercatat sebesar 3,04% (yoy) pada November 2023 atau setidaknya merupakan posisi terendah sejak Maret 2022.

Kondisi masalah daya beli masyarakat memang sedikit melambat meskipun tidak memberikan pengaruh yang signifikan bagi inflasi. “Memang ada masalah daya beli karena ekonomi di kelas bawah melambat. Tapi belum ada pengaruh signifikan pada inflasi,” kata Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan bahwa inflasi Indonesia melandai dikarenakan angka indeks tahun lalu tinggi. “Angka indeks tahun lalu tinggi sesudah terjadi Kenaikan harga BBM tahun lalu,” papar Hans.

Sebagai catatan, indeks inflasi Indonesia pada Desember 2023 tercatat sebesar 116,56. Sedangkan pada Desember 2022 tercatat di angka 113,59.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(rev/rev)[Gambas:Video CNBC] 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *