Jepang Resesi, Begini Dampaknya ke Pasar Modal Indonesia

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan, resesi ekonomi yang terjadi di Jepang tidak mempengaruhi kinerja pasar modal di Tanah Air.

Jepang saat ini berjuang melawan resesi ekonomi yang disebabkan oleh devaluasi mata uangnya dan demografi lansianya.

Meskipun ekonominya secara nominal tumbuh sebesar 1,9 persen pada 2023, Jepang tertinggal dari Jerman yang mempertahankan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,5 triliun dolar AS

Jeffrey menegaskan, tren tersebuy seharusnya menjadi peluang bagi pasar modal di Indonesia.

“Kalau terkait dengan investor asing tentu kita harus bisa mengambil manfaat dari konstelasi ekonomi global,” ucap Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (19/2/2024).

“Gimana caranya supaya lebih banyak lagi investor asing yang masuk ke pasar modal kita, tentu adalah dengan melakukan pendalaman pasar dalam hal ini penambahan produk dan jasa,” sambungnya.

Menurutnya, tren kinerja pasar modal di Tanah Air juga dalam kondisi cukup baik. Hal ini terlihat dari capaian jumlah single investor identification (SID) sebanyak 12,1 juta per Desember 2023.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2023. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), per Sabtu (30/12/2023), IHSG melonjak 6,1 persen secara year to date (Ytd).

Menurut Jeffrey, faktor-faktor tersebut telah membuat para calon investor semakin berminat untuk berinvestasi di pasar modal.

“Kita tahu sepanjang tahun 2023 indeks harga saham gabungan kita tumbuh 6 persen, itu menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat yang belum menjadi investor,” papar Jeffrey.

Baca juga: Pasar Modal Indonesia Diprediksi Tumbuh Positif, Ini Sejumlah Faktornya

“Kegiatan-kegiatan sosialisasi yang kita lakukan melalui kantor perwakilan di Indonesia melalui 800 galeri investasi di seluruh Indonesia kita mendorong lebih banyak masyarakat yang menjadi investor di pasar modal,” pungkasnya.

Perkembangan Investor BEI Tak Terpengaruh Pemilu-Pilpres

Jeffrey mengatakan, penyelenggaraan Pilpres 2024 yang diprediksi hanya akan terjadi dalam 1 putaran, tidak akan mempengaruhi perkembangan jumlah investor di pasar modal.

Berdasarkan catatan BEI, jumlah investor baru di pasar modal per Januari 2024 sebanyak 170 ribu single investor identification (SID).

Baca juga: Telkom Tetap Akan Jual Saham di Finnet, Sudah Ada Calon Investor Tapi Harga Belum Cocok

BEI menargetkan jumlah investor mencapai 2 juta SID per tahun. “Bursa Efek Indonesia sudah menetapkan investor hingga akhir tahun itu pertumbuhan 2 juta investor,” ucap Jeffrey.

“Terlepas dari adanya kegiatan Pemilu satu putaran atau dua putaran, ya harusnya tidak terpengaruh kepada aktivitas kegiatan bursa untuk mencapai target itu,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *