Sekolah Perempuan Pertama di Malang Simpan Kisah Perjuangan Anak Pribumi untuk Belajar

MALANG – Ini adalah Cor Jesu. Yaitu sebuah sekolah di kota Malang. Lembaga pendidikan ini menjadi salah satu yang tertua di Kota Malang yang didirikan pada tahun 1900. Sekolah ini menyimpan sejarah bagaimana perjuangan siswa keturunan pribumi saat itu berusaha berjuang mendapatkan akses pendidikan.

Lucia Anggraini, selaku suster Cor Jesu menyatakan saat itu ada sejumlah suster dari Benua Eropa yang datang ke Malang. Lantas suster itu mendirikan sebuah sekolah bernuansakan Nasrani yang diinisiasi oleh Suster Angele Flecken OSU, pada 1 Maret 1900.

“Pembangunannya di sini bertahap, ada tiga tahap dimulai pada 1 Maret 1900, itu sekolah TK dulu. Sekolah putri Katolik pertama di Malang, di tahun 1920 ini fotonya ada tiga tahap, jadi sudah ada rencana blue printnya,” ucap Lucia Anggraini, Kamis (21/12/2023).

 

Menurutnya, tahap pertama pembangunan difokuskan kepada sekolah keputrian, sekaligus untuk asrama para suster dan anak di 1 Maret 1900. Di tahap kedua, gedung kedua difungsikan untuk pembangunan sekolah SMP di tahun 1920.

“Untuk tahap ketiga itu biaranya, dibangun 1933. Untuk biaranya ini dikerjakan tidak ada satu tahun, hanya sekitar 11 bulan, tapi dengan melibatkan pekerjanya 300 – 400 orang. Saat itu sekolah sedang naik, makanya pembangunan bisa cepat,” jelasnya.

 BACA JUGA:

Perjuangan Anak Pribumi

Ia menjelaskan, bila sekolah katolik putri untuk tingkat TK dan SD juga dilengkapi dengan asrama tempat anak-anak menginap. Mayoritas dari muridnya kala itu merupakan orang-orang Belanda, kaum konglomerat pribumi yang, kaum pribumi proletar, hingga ada anak keturunan Indonesia Belanda.

“Dulu belum ada sekolah, yang pribumi biasanya orangtuanya kerja di perkebunan kopi, anaknya dimasukkan ke sekolah sini. Jadi perkembangan Malang sesuai dengan sekolah kami,” katanya.

Namun sayang, kemunculan peraturan kaum pribumi tidak boleh mengenyam pendidikan dari pemerintah Belanda yang berkuasa membuat harapan para murid pupus. Bahkan peristiwa miris pernah terjadi ketika para kaum pribumi tengah bersekolah ini ada semacam razia oleh pemerintah Belanda, yang membuat anak-anak itu diminta dipulangkan.

‘Tapi oleh pemerintah Belanda kala itu anak-anak pribumi disuruh pulang, jadi nggak boleh sekolah. Akhirnya kami suster-suster waktu itu menangis. Padahal kami tidak melihat ras, agama, karena concern-nya di pendidikan,” tuturnya.

 BACA JUGA:

Sebagai gantinya, para suster akhirnya mulai mengakali dengan memberikan kursus-kursus kemampuan kepada para anak-anak kaum pribumi. Kursus itu berupa keterampilan bermain musik, memasak, hingga bernyanyi. Tak pelak antusiasme anak-anak pribumi itu kembali muncul, kendati pengajaran ketrampilan itu dilakukan di luar jam sekolah.

“Para suster akhirnya membuat kursus-kursus untuk mereka, ada kursus saja tidak berkaitan dengan ijazah pemerintah, mengajari musik, main drama, menyanyi. Jadi ini tidak berkaitan dengan ijazah, di luar sekolah,” tukasnya.


Follow Berita Okezone di Google News



Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari Okezone hanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya












 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *